lelaki yang alim gak bisa dijadikan patokan bahwa dia pasti akan setia terhadap pasangannya. lelaki yang baik dan polos juga tak dapat diharapkan untuk selalu sertamerta memegang komitmennya, setiap lelaki yang baik mungkin pada awalnya berpikir bahwa pasangannya adalah satu-satunya yang akan dimilikinya dan harus dijaganya, tapi wahai perempuan janganlah kau sengaja atau tidak sengaja memberikan arahan mau diduakan, karena lelaki yang baik dan sealim apapun pasti akan menyabet kesempatan itu dengan mimik wajah yang tidak berdosa, karena pada dasarnya lelaki itu dasarnya sama aja.
memang kata orang tidak semua lelaki itu sama, tidak semua yang suka mengganti pasangannya hanya karena pasangannya sudah jelek,peyot,gemuk,hitam dan bangkrut dan begitu juga saya. saya juga penganut pahan itu bahwa lelaki itu tidak sama dan dulu saya juga berpikir bahwa dia itu orang yang paling setia dimuka bumi ini dan paling mengerti apa yang kumau. tapi ternyata..., sama aja.
aku tau kalau kelemahan aku memang mempunyai segunung kelemahan apalagi kekurangan. tapi aku juga punya hak untuk bahagia dan mengharapkan bahwa suami tidak akan berhubungan dengan wanita lain bahkan memikirkan wanita lain saja pasti wanita tidak akan mau.
Aku sudah dua kali memergoki di chating dengan perempuan itu. dan dapat dibayangkan betapa mendidihnya hati ini, kalau bisa laptop itu kubanting, kata-katanya begitu mesra, dan tersirat betapa berbunga-bunga dan senangnya dia merangkai kata demi kata dan selalu membahas cerita yang sepengetahuan ku sudah berulang-ulang kali dibahas. padahal aku tau dia paling tidak suka membahas hal yang tidak berguna dan mengulang pembahasan yang sama, tapi dengan wanita itu...
pedih rasanya, ingin rasanya aku mendamprat perempuan tidak laku itu. aku muak, tapi apa gunanya suamiku yang selalu memulai, dan perempuan tak laku dan putus asa itu melayaninya. aku harus gimana...
sekarang hati ini masih begitu pedih, selama ini aku teman-temanku selalu curhat padaku, tapi sekarang masalah itu menimpa ku. aku mau curhat dengan siapa, kalau dulu ada ibuku yang mau mendengar dan menasehati aku. dan setelah ibuku tiada suamiku yang menjadi tempat ku mengadu, kalau begini keadaannya aku harus ngomong dengan siapa... aku sedihh sekali.
aku tak bisa memberi tahu masalah ini kepada orang atau saudaraku sendiri karena selama ini aku menyanjung suamiku didepan mereka. rasanya aku sudah gak tahan lagi..
Ingin pergi tapi anakku bagaimana, tak mungkin mereka kubawa, merekapasti menderita denganku.
sekarang aku hanya pasrah, dan untuk sekarang aku tak akan berusaha menyelesaikan masalah ini,aku akan menata hidupku lagi, dan kalau aku berpikir lelaki itu tidak sama selama ini sekarang tidak, lelaki itu sama aja. dan aku melihat sepertinya suamiku secara tersirat memberikan aku kebebasan, akan kumanfaatkan, akan kubalas dia. biarlah rumah tangga ini berjalan begitu aja, mau hancur atau baik aku tak mau pusing.. yang penting bersenang-senang... masih muda kok.. dia bisa kenapa aku tidak.
aku tau kalau kelemahan aku memang mempunyai segunung kelemahan apalagi kekurangan. tapi aku juga punya hak untuk bahagia dan mengharapkan bahwa suami tidak akan berhubungan dengan wanita lain bahkan memikirkan wanita lain saja pasti wanita tidak akan mau.
Aku sudah dua kali memergoki di chating dengan perempuan itu. dan dapat dibayangkan betapa mendidihnya hati ini, kalau bisa laptop itu kubanting, kata-katanya begitu mesra, dan tersirat betapa berbunga-bunga dan senangnya dia merangkai kata demi kata dan selalu membahas cerita yang sepengetahuan ku sudah berulang-ulang kali dibahas. padahal aku tau dia paling tidak suka membahas hal yang tidak berguna dan mengulang pembahasan yang sama, tapi dengan wanita itu...
pedih rasanya, ingin rasanya aku mendamprat perempuan tidak laku itu. aku muak, tapi apa gunanya suamiku yang selalu memulai, dan perempuan tak laku dan putus asa itu melayaninya. aku harus gimana...
sekarang hati ini masih begitu pedih, selama ini aku teman-temanku selalu curhat padaku, tapi sekarang masalah itu menimpa ku. aku mau curhat dengan siapa, kalau dulu ada ibuku yang mau mendengar dan menasehati aku. dan setelah ibuku tiada suamiku yang menjadi tempat ku mengadu, kalau begini keadaannya aku harus ngomong dengan siapa... aku sedihh sekali.
aku tak bisa memberi tahu masalah ini kepada orang atau saudaraku sendiri karena selama ini aku menyanjung suamiku didepan mereka. rasanya aku sudah gak tahan lagi..
Ingin pergi tapi anakku bagaimana, tak mungkin mereka kubawa, merekapasti menderita denganku.
sekarang aku hanya pasrah, dan untuk sekarang aku tak akan berusaha menyelesaikan masalah ini,aku akan menata hidupku lagi, dan kalau aku berpikir lelaki itu tidak sama selama ini sekarang tidak, lelaki itu sama aja. dan aku melihat sepertinya suamiku secara tersirat memberikan aku kebebasan, akan kumanfaatkan, akan kubalas dia. biarlah rumah tangga ini berjalan begitu aja, mau hancur atau baik aku tak mau pusing.. yang penting bersenang-senang... masih muda kok.. dia bisa kenapa aku tidak.
Label: curhat
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar